Rabu, 04 Januari 2012

Peranan Keluarga dalam perkembangan anak

Pendidikan anak perlu mendapat perhatian dari keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendidikan anak diawali dari pendidikan keluarga yang merupakan lembaga pendidikan yang utama dan pertama. Sebagai lembaga pendidikan yang utama dan pertama maka keluarga merupakan peletak dasar atau pundamen bagi pendidikan anak dalam mengikuti perkembangan selanjutnya. Baik atau buruknya anak dikemudian hari sangat ditentukan  oleh keluarga. Pendidikan keluarga bertujuan memberikan pembinaan dan pengaruh kepada anak tentang dasar-dasar kehidupan termasuk pengetahuan agar anak terbuka perhatiannya dalam mencintai pendidikan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa iniserta bentuk kehidupan yang semakin mengglobal maka orang tua, guru dan masyarakat dituntut untuk mencari alternatif terhadap pembinaan dan pengembangn wawasan anak. Tri pusat pendidikan yaitu lingkungan, keluarga, masyarakat mempunyai peranan penting sebagai wadah pembinaan anak, harus kerja sama dan saling menunjang.
Orang tua yang mengerti akan kebutuhan anak selalu menyiapkan sarana pendidikan dan juga memberikan motivasi agar anak bersemangat untuk belajar. Pemberian motivasi membuat anak dapat percaya diri, kreatif dan berpikir jernih dan logis. Pembinaan tanpa memaksakan kehendak akan lebih bermanfaat buat kelanjutan kehidupan anak. Kebebasan keluwesan dan kepercayaan orang tua, memungkinkan munculnya kreatifitas bagi anak. Prestasi belajar yang baik akan dapat dicapai apabila tanggung jawab pendidikan tidak dilimpahkan pada guru semata, tetapi orangtua pun harus memikul tanggung jawab membuat anaknya dapat belajar dan memotifasinya setelah berada di lingkungan keluarga.
Prestasi belajar anak sangat ditentukan oleh cara keluarga dalam membina, menuntun, mendidik anaknya. Orang tua yang senantiasa memberikan dorongan atau motifasi belajar kepada anaknya maka anak itu akan mencapai prestasi yang memuaskan. Karena dalam belajar seorang anak memperoleh motivasi dari dalam dirinya, juga dari luar dirinya terutama dari orang tuanya atau keluarga.
Setiap orangtua memilki pola pembianaan yang berbeda kepada anaknya. Ada orang tua yang memberikan pembinaan yang keras, ada yang sedang dan ada juga yang terlalu lembut atau memanjakan.
Motivasi belajar dari luar diri anak terutama dari orang tuanya  sangat berperan untuk pencapaian prestasi seorang anak, karena orang tuanyalah yang mengatur dan mengetahui keberadaan seorang anak diluar sekolah dan setiap kebutuhan belajar anak dipenuhi oleh orang tuanya.
Orang tua dalam mendidik anak, khususnya di dalam rumah tangga sangatlah penting, karena di dalam rumah tangga seorang anak mula0mula memperoleh bimbingan dan pendidikan dari orang tuanya. Tugas orang tua aalah sebagai guru atau pendidik yang utama dan pertama di dalam rumah tangga dalam menumbuhkan dan mengembangkan kekuatan mental dan fisik anak.
Bagi orang tua yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi anaknya, akan selalu memandang anak sebagai mahluk yang berakal yang sedang timbuh dan bergairah serta selalu ingin menyelidiki dan selalu ingin mengetahui sesuatu yang ada disekelilingnya. Oleh karena itu orang tua merasa terpanggil untuk mendidik atau memberikan perhatian atau motivasi kepada anak-anaknya. Namun tidak dapat disangkal bahwa selama ini sebagian orang tua lupa dan lalai karena tidak tahu bagaimana cara melaksanakan tugas yang amat penting itu. Banyak diantara orang tua yang beranggapan bahwa kalau anak-anak sudah diserahkan kepada guru di sekolah, maka selesailah tugas mereka dalam mendidik atau memberikan perhatian terhadap pendidikan anaknya.
Hal tersebut sangat terkait dengan fungsi keluarga sebagaimana dikemukakan oleh Masri (1974: 44) sebagai berikut :
a.      Fungsi dari keluraga itu tidak hanya merupakan turunan (biologis) tetapi juga merupakan bahagian dari hidup bermasyarakat. Disini  keluarga tidak hanya bertugas  memelihara anak, tetapi juga berfungsi untuk membentuk idea, cita-cita dan sikap sosial dari anak-anak.
b.      Bahwa keluarga itu tidak mempunyai kewajiban untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan, rasa keagamaan, kemauan dan rasa kesukaan kepada keindahan, kecakapan dan berekonomi dan pengetahuan penjagaan diri pada si anak.

Sementara itu menurut Rosjidan (1996:3-4) mengemukakan bahwa terdapat delapan fungsi keluarga yaitu:
a)      Fungsi keagamaan
Untuk mendorong keluarga sebagai wahana penanaman kaidah-kaidah ajaran  agama agar tercipta insan-insan pembangunan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b)     Fungsi sosial budaya
Untuk mendorong keluarga sebagai wahana persemaian  nilai-nilai luhur budaya masyarakat/bangsa yang mulia dan beradab.
c)      Fungsi cinta kasih
Untuk mendorong keluarga sebagai wahana pembinaan cinta kasih sayang serta jiwa kesetiakawanan antara anggota keluarga dan antara keluarga dengan   masyarakat lingkungannya.
d)     Fungsi  perlindungan
Untuk mendorong sebagai wahana pembinaan untuk menciptakan rasa aman, damai, nyaman, dan tentram serta keadilan sebagai cerminan hidup yang sejahtera lahir batin.
e)      Fungsi reproduksi
Untuk mendorong keluarga sebagai wahana pelaksanaan kesadaran akan pentingnya peranan reproduksi sehat dalam upaya mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera.
f)       Fungsi sosialisasi
Untuk mendorong keluarga sebagai wahana sosialisasi dan pendidikan murid yang ekonomi, efisien, profesional, pembinaan produktivitas, serta kemandirian dalam memenuhi kebutuhan diri dan kelurga.
g)     Fungsi ekonomi.
Untuk mendorong keluarga sebagai wahana pembentukan sikap  hidup yang ekonomi, efisien, profesional, pembinaan produktivitas, serta kemandirian dalam memenuhi kebutuhan diri dan keluarga.

Dari pengertian dan uraian tentang fungsi keluarga di atas, maka semakin tampaklah tanggung jawab orang tua sebagai kepala keluarga. Sebagai orang tua atau kepala keluarga yang bertanggung jawab di dalam rumah tangga ia harus memperhatikan fungsi-fungsi keluarga yang telah dikemukakan di atas. Fungsi yang paling penting adalah perhatian akan peletakan dasar-dasar pendidikan, karena keluargalah merupakan lembaga pendidikan yang utama dan pertama pengalaman itu menjadi dasar untuk pengembangan kepribadian anak selanjutnya, sebagaimana ditegaskan oleh Siahan (1986: 2) bahwa :
Di dalam rumah tangga pendidikan harus dimulai, inilah sekolah yang pertama. Di sini ibu bapak sebagai guru-gurunya, maka anak-anak itu harus belajar segala pelajaran yang akan memimpinnya sepanjang hidupnya, yaitu pelajaran tentang penghormatan, penuturan, pengendalian diri dan kejujuran.

Dengan demikian, keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Namun saat ini terkadang terdapat orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya, maka ada kecenderungan fungsi ini kurang mendapatkan perhatian terutama dalam memberikan motivasi kepada anak-anaknya untuk memperhatikan pelajaran di rumah. Di mana terjadai suatu kecenderungan orang tua melimpahkan sepenuhnya tanggung jawab tersebut kepada lembaga pendidikan seperti di sekolah, sehingga orang tua menjadi lebih ringan untuk dapat melaksanakan segala pekerjaannya. Akan tetapi, tentu saja tidak semua orang tua yaitu ayan dan ibu sama-sama sibuk dengan pekerjaannya, pada kenyataan bahwa itulah yang paling banyak waktunya bersama-sama dengan anak. Oleh karena itu, ibulah sebenarnya yang paling besar pengaruhnya terhadap pemberian motivasi kepada anak-anaknya untuk melaksanakan aktivitas belajar di rumah. Namun tidak berarti mengambil peranan bapak sebagai kepala rumah tangga dalam memberikan motivasi kepada anak-anaknya.
Lebih jelasnya mengenai fungsi motivasi tersebut khususnya dalam aktivitas belajar, seperti yang dikemukakan oleh Sardiman (1992: 84) yaitu :
1.     Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2.    Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang akan dicapai.
3.  Menyelesaikan perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Dengan demikian, orang tua sebagai pendidik dan pengasuh dalam lingkungan keluarga mempunyai fungsi dan peranan yang sangat menentukan dalam menumbuhkan atau membangkitkan motivasi anak dalam melaksanakan aktivitas belajar sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar